Kamis, 15 November 2012

Karakteristik Filsafat


Dapat didefinisikan enam hal berkenaan dengan karakteristik filsafat, yaitu objek yang dipelajari filsafat ( objek studi ), proses berfilsafat ( proses studi ), tujuan berfilsafat, hasil berfilsafat ( hasil studi ), penyajian dan sifat kebenarannya.

Objek studi filsafat adalah segala sesuatu, meliputi segala sesuatu yang telah tergelar sendirinya ( ciptaan tuhan ) maupun segala sesuatu sebagai hasil kreasi manusia dan objek studi filsafat bersifat komprehensif mendasar.

Proses studi atau proses berfilsafat dimulai dengan ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya,dan keraguan seorang filsuf terhadap suatu yang dialaminya. Sehubungan dengan itu dalam berfilsafat para filsuf tidak berfikir dengan bertolak kepada suatu asumsi yang telah ada, sebaliknya mereka menguji asumsi yang telah ada, selain itu berfikir filosofis atau berfilsafat bersifat kontemplatif,artinya berfikir untuk mengungkap hakikat dari suatu yang difikirkan, atau berfikir spekuatif yakni berfikir melampaui fakta yang ada untuk mengungkap apa yang ada dibalik yang nampak, atau disebut pula berfikir radikal, yaitu berfikir sampai kepada akar dari suatu apa yang dipertanyakan,sehingga terungkap hakikat dari apa yang dipertanyakan tersebut.
Perlu dipahami pula bahwa dalam berfikirnya itu para filsuf melibatkan seluruh pengalaman insaninya sehingga bersifat subjektif.

Tujuan para filsuf berrfikir sedemikian rupa mengenai  apa yang dipertanyakan tiada lain adalah untuk memperoleh kebenaran. Hasil berfilsafat tiada lain adalah sitem teori, sitem fikiran atau konsep yang bersifat normative atau preskriptif dan individualistik-unik. Hasil berfilsafat bersifat normatif atau preskriptif artinya bahwa sistem gagasan filsafat menunjukan tentang apa yang dicita-citakan atau apa yang seharusnya, sedangkan individualistik- unik artinya bahwa sitem gagasan filsafat yang dikemukakan filsuf tertentu akan berbeda dengan sistem gagasan filsafat yang dikemukakan filsuf lainnya. Ini mungkin terjadi antara kain karena sifat subjektif dari proses berfikirnya yang melibatkan pengalaman insani masing – masing filsuf,maka dari itu, kebenaran filsafat bersifat subjektif paralelistik, mkasudnya bahwa suatu sistem gagasan filsafat adalah benar bagi filsuf yang bersangkutan atau bagi para penganutnya. Antara sistem gagasan filsafat yang satu dengan sistem gagasan filsafat yang lainnya tidak dapat saling menjatuhkan mengenai kebenarannya. Dengan kata lain, bahwa masing-masing aliran filsafat memiliki kebenaran yang berlaku dalam relnya masing-masing,adapun hasil berfilsafat tersebut disajikanpara filsuf secara tematik,sistematis dalam bentuk naratif ( uraian lisan/tertulis ) atau profetik ( dialog tanya jawab lisan/tertulis )

c. Sistematika/ Cabang – Cabang Filsafat
Berdasarkan objek ang dipelajarinya diklasifikaikan kedalam
1. Filsafat umum meliputi metafisika, Epistemologi, Logika, (Etika dan Estetika)
2. Filsafat Khusus antara lain Filsafat hukum, Filsafat umum, Filsafat ilmu, Filsafat pendidikan, dll. (Redja Mudyahardjo,1995)

d. Aliran Filsafat
Aliran filsafat berdasarkan konsistensi pikiran, ada tiga aliran yaitu Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar