Jumat, 16 November 2012

Landasan Filosfis Pendidikan Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme


1. Idealisme
  1. Konsep filsafat umum idealisme

Metafisika : Para filosof idealisme mengklaim bahwa realitas hakikatnya bersifat spiritual. Manusia adalah makhluk berfikir, memiliki tujuan hidup dan hidup dalam dunia dengan suatu moral yang jelas.
Epistemologi : Pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali atau berfikir dan melalui intuisi.
Aksiologi : Manusia diperintah oleh nilai moral imperatif yang bersumber dari realitas yang absolute. Nilai bersifat absolute dan tidak berubah.

  1. Implikasi terhadap Pendidikan
Tujuan Pendidikan : Pengembangan karakter, pengembangan bakat insani, dan kebijakan social.
Kurikulum pendidikan : Pengembangan kemampuan berfikir melalui pendidikan liberal, penyiapan keterampilan bekerja suatu mata pencaharian praktis.
Metode Pendidikan : metode dialetik, yang mendorong belajar dapat diterima.
Peranan Peserta didik : pendidik harus unguul agar dapat menjadi teladan, baik dalam moral maupun intelektual. Sedangkan peserta didik bebas mengembangkan kepribadian dan bakat – bakatnya.


2. Realisme
Realisme
a.       Konsep filsafat umum realisme
Metafisika: filosof relisme umumnya memandang dunia  dalam pengertian materi yang hadir dengan sendirinya, dan tertata dalam hubungan-hubungan yang teratur di luar campur tangan manusia
Manusia: hakikat manusia terletak pada apa yang dikerjakannya. Pikiran atau jiwa merupakan suatu organism yang sangat rumit yang mampu berfikir. Manusia bisa bebas atau tidak bebas.
Epistemology: pengetahuan diperoleh manusia melalui pengalama dan penggunaan akal. Dunia yang hadir tidak tergantung. Pada pikiran, atau pengtahuan manusia tidak dapat mengubah esensi realitas (principle of independence). Uji kebenaran pengetahuan didasarkan atas teori korespodensi.
Aksiologi: tingkah liku manusia diatur oleh hukum  alam dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebijaksanaan yang telah teruji.

b.      Implikasi terhadap pendidikan

Tujuan pendidikan: pendidikan bertujuan untuk pemyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggung jawab social.

Kurikulum/isi pendidikan: kurikulum harus bersifat komprehensif yang berisi sains, matematika, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial, serta nilai-nilai. Kurikulum mengandung unsure-unsur pendidikan liberal dan pendidikan praktis. Kurikulum diorganisasi menurut mata pelajaran (subject matter) dan berpusat pada materi pelajaran (subject centered).

Metode: metode hendaknya bersifat logis dan psikologis. Pembiasaan merupakan metode utama bagi penganut realism.

Peranan pendidik dan perserta didik: pendidik adalah pengelola kegiatan belajar mengajar (classroom as teacher-centered). Pendidik harus mengetahui pengetahuan yang mungkin berubah, harus menguasai keterampilan teknik mengajar, dan memiliki kewenangan menuntut prestasi siswa. Sedangkan peserta didik berperan untuk menguasai pengetahuan, taat pada peraturan, dan berdisiplin. Adapun orientasi pendidikan realism adalah esensialisme.







3. Pragmatisme

a.       Konsep filsafat umum pragmatisme
Metafisika: pragmatism anti metafisika. Suatu teori umum tentang kenyataan tidaklah mungkin dan tidak perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik prular dan berubah (becoming).
Manusia: manusia adalah hasil evolusi biologis, psikologis, dan sosial. Setiap orang lahir tidak dewasa, tak berdaya, tanpa dibekali dengan bahasa, keyakinan-keyakinan, gagasan-gagasan, atau norma-norma sosial.
Epistemologi: penetahuan yang benar diperoleh melalui  pengalaman dan berfikir(scientific method). Pengetahuan adalah relative. Pengetahuan yang benar adalah yang berguna untuk kehidupan (instrumantalisme)
Aksiologi: ukuran tingkah laku individual dan sosial cecara eksperimental dalam pengalaman hidup. Jika hasilnya berguna tingkah laku tersebutadalah baik (eksperimentalisme), karena itu nilai yang bersifat relatif  dan kondisional.

b.      Implikasi terhadap pendidikan
Tujuan pendidikan: pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hayat, proses rekontrusi yang berlangsung terus menerus dari pengalamanyang terakumulasi dan sebuah proses sosial. Tujuan pendidikan adalah memerpoleh pengalaman  pengalaman yang berguna untuk mampu memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan individual maupun sosial
Kurikulum/isi pendidikan: kurikulum berisi penglaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuaidengan minat dan kebutuhan siswa, tidak memisahkan pendidikan liberal dan pendidikan praktis.kurikulum mungkin berubah, warisan warisan sosial dari masa lalu tidak menjadi focus perhatian. Pendidikan terfokus pada kehidupan yang baik pada saat ini dan masa dating bagi individu,dan secara bersamaan masyarakat dikembangkan. Kurikulum bersikap demokratis.
Metode: mengutamakan metode pemecahan masalah, penyelidikan, dan penemuan.
Peranan pendidik dan peserta didik: peranan pendidik adalah memimpin dan membimbing peserta didik belajar tanpa ikut campur terlalu atas minat dan kebutuhan siswa. Sedangkan peserta didik berperan sebagai organism yang rumit yang mampu tumbuh.
Orientasi pendidikan pragtisme adalah progresivisme.





Kamis, 15 November 2012

Karakteristik Filsafat


Dapat didefinisikan enam hal berkenaan dengan karakteristik filsafat, yaitu objek yang dipelajari filsafat ( objek studi ), proses berfilsafat ( proses studi ), tujuan berfilsafat, hasil berfilsafat ( hasil studi ), penyajian dan sifat kebenarannya.

Objek studi filsafat adalah segala sesuatu, meliputi segala sesuatu yang telah tergelar sendirinya ( ciptaan tuhan ) maupun segala sesuatu sebagai hasil kreasi manusia dan objek studi filsafat bersifat komprehensif mendasar.

Proses studi atau proses berfilsafat dimulai dengan ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya,dan keraguan seorang filsuf terhadap suatu yang dialaminya. Sehubungan dengan itu dalam berfilsafat para filsuf tidak berfikir dengan bertolak kepada suatu asumsi yang telah ada, sebaliknya mereka menguji asumsi yang telah ada, selain itu berfikir filosofis atau berfilsafat bersifat kontemplatif,artinya berfikir untuk mengungkap hakikat dari suatu yang difikirkan, atau berfikir spekuatif yakni berfikir melampaui fakta yang ada untuk mengungkap apa yang ada dibalik yang nampak, atau disebut pula berfikir radikal, yaitu berfikir sampai kepada akar dari suatu apa yang dipertanyakan,sehingga terungkap hakikat dari apa yang dipertanyakan tersebut.
Perlu dipahami pula bahwa dalam berfikirnya itu para filsuf melibatkan seluruh pengalaman insaninya sehingga bersifat subjektif.

Tujuan para filsuf berrfikir sedemikian rupa mengenai  apa yang dipertanyakan tiada lain adalah untuk memperoleh kebenaran. Hasil berfilsafat tiada lain adalah sitem teori, sitem fikiran atau konsep yang bersifat normative atau preskriptif dan individualistik-unik. Hasil berfilsafat bersifat normatif atau preskriptif artinya bahwa sistem gagasan filsafat menunjukan tentang apa yang dicita-citakan atau apa yang seharusnya, sedangkan individualistik- unik artinya bahwa sitem gagasan filsafat yang dikemukakan filsuf tertentu akan berbeda dengan sistem gagasan filsafat yang dikemukakan filsuf lainnya. Ini mungkin terjadi antara kain karena sifat subjektif dari proses berfikirnya yang melibatkan pengalaman insani masing – masing filsuf,maka dari itu, kebenaran filsafat bersifat subjektif paralelistik, mkasudnya bahwa suatu sistem gagasan filsafat adalah benar bagi filsuf yang bersangkutan atau bagi para penganutnya. Antara sistem gagasan filsafat yang satu dengan sistem gagasan filsafat yang lainnya tidak dapat saling menjatuhkan mengenai kebenarannya. Dengan kata lain, bahwa masing-masing aliran filsafat memiliki kebenaran yang berlaku dalam relnya masing-masing,adapun hasil berfilsafat tersebut disajikanpara filsuf secara tematik,sistematis dalam bentuk naratif ( uraian lisan/tertulis ) atau profetik ( dialog tanya jawab lisan/tertulis )

c. Sistematika/ Cabang – Cabang Filsafat
Berdasarkan objek ang dipelajarinya diklasifikaikan kedalam
1. Filsafat umum meliputi metafisika, Epistemologi, Logika, (Etika dan Estetika)
2. Filsafat Khusus antara lain Filsafat hukum, Filsafat umum, Filsafat ilmu, Filsafat pendidikan, dll. (Redja Mudyahardjo,1995)

d. Aliran Filsafat
Aliran filsafat berdasarkan konsistensi pikiran, ada tiga aliran yaitu Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme.